Pro dan Kontra Pemberian Insentif Pajak

insentif pajak

info training pajak jakarta

Bagi negara transisi, insentif pajak dianggap sebagai penyeimbang disinsentif investasi yang melekat pada sistem pajak secara umum. Selain itu, insentif dianggap dapat mengimbangi ketidaknyamanan situasi yang dihadapi investor seperti kekurangan dan rendahnya kualitas infrastruktur, peraturan perundang-undangan yang komplikatif dan ketinggalan zaman, kompleksitas dan inefisiensi serta kelemahan birokrasi.

Masyarakat pengamat dan pengusaha yang  mendukung pemberian insentif selalu berpendapat bahwa insentif  pajak dapat mendorong investasi. Disamping mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan multiplier effect, investasi diyakini dapat memberikan spillover effect pada ekonomi nasional.

Adapula bagi pendukung  pemikiran ini menyebutkan bahwa dalam sistem liberalisasi mobilitas arus modal global, jika suatu negara tidak mengimbangi insentif pajak yang tersedia di negara sekawasan, jasa konsultan pajak jakarta akan terjadi pelarian modal (capital flight) dari suatu jurisdiksi ke juridiksi lain yang memberikan keuntungan maksimum setelah pajak (after tax return).

Beberapa penelitian di negara berkembang dan di negara transisi, insentif pajak hanya merupakan sebagian dari berbagai factor pertimbangan investasi. Argumentasi mengenai hal ini adalah bahwa keringanan beban pajak sendiri tidak dapat mengatasi permasalahan fundamental yang dihadapi ketika berinvestasi, terutama faktor selain pajak seperti ketersediaan infrastruktur, birokrasi, budaya kerja dan kualitas tenaga kerja, ketersediaan bahan baku dan potensi pasar.

Diberbagai negara maju, pemberian insentif dengan menggunakan instrument pajak pada umumnya digunakan untuk mendorong kegiatan penelitian dan pengembangan dimana atas biaya penelitian dan pengembangan dimana atas biaya penelitian tersebut nantinya akan diperlakukan sebagai bentuk dari insentif dari pemerintah dengan berbagai bentuk (Hadari,1990; Holland and van,1996). pengertian sop

Pendapat lain menyebutkan bahwa dari sisi investor, pada dasarnya akan melakukan investasi jika telah benar-benar  memahami kondisi negara yang akan menjadi lokasi tujuan investasi. Ketika pemerintah menyediakan insentif, hal itu semata-mata hanya sebuah reward atas kegitan investasi dimana tanpa ketersediaan insentif sekalipun, investor akan tetap melakukan investasi (Halkyard,2010).

Mengutip tulisan Gunadi (2013, 498) mengenai pro dan kontra pemberian insentif pajak, disebutkan bahwa pada sistem pajak yang teradministrasibaik dengan tariff rendah dan memiliki kepastian serta sederhana lebih didambakan dari pada insentif pajak.

Pada dasarnya terdapat 2 hal penting mengenai insentif yang perlu di ketahui, yaitu:

Electricity theory, yaitu insentif pajak sebagai magnet yang kuat  dalam menarik investasi jika pull & push theory terpenuhi, yaitu jika besaran pasar, ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia, stabilitas politik merupakan hal yang berjalan  dengan baik, maka insentif pajak dianggap sebagai daya dorong investasi.

Halkyard (2010) menjelaskan beberapa pertimbangan yang sering diambil pembuat kebijakan di negara berkembang mengapa selalu menggunakan insentif pajak sebagai instrument:

  • Pemerintah berada dalam tekanan untuk selalu memberikan insentif karena dengan memberikan insentif menggambarkan bahwa pemerintah berupaya untuk menciptakan iklim yang ramah terhadap investor;
  • Pemerintah seringkali tidak dapat tidak memberikan insentif oleh desakan investor memang yang telah berinvestasi didaerahnya;
  • Insentif pajak merupakan instrument yang paling memungkinkan untuk diberikan dalam menarik investasi dari minimnya pilihan dan kemungkinan instrument  lain yang dapat ditawarkan.

Sumber: Indonesian Tax Review

Add a Comment

Your email address will not be published.