Siapa saja anggota keluarga yang harus dibayarkan zakatnya?

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, jadi penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta dari perbuatan atau perkataan jorok …. ” (Hr. Abu Daud ; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Berdasar pada hadis ini, ulama bersilang pendapat : adakah zakat fitri untuk anak, sesaat satu diantara peranan zakat fitri yaitu jadi penyuci orang yang berpuasa? Walau sebenarnya, anak kecil atau orang hilang ingatan tidak membutuhkan hal semacam ini. Perbuatan jelek mereka tidak dinilai dosa, hingga tidak perlu pembersih dosa.

Sebagian besar ulama memiliki pendapat kalau orangtua atau wali harus menunaikan zakat fitri untuk anak kecil atau orang hilang ingatan. zakat fitrah dengan uang  Berikut pendapat yang lebih kuat, mengingat perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang ada dalam hadis kisah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Mengenai hadis yang mengatakan peranan zakat fitri “sebagai penyuci untuk orang yang puasa” yaitu dalam rencana bercerita kondisi biasanya, yakni saat sebagian besar orang yang membayar zakat fitri yaitu orang yang berpuasa.

Apakah istri diharuskan membayar zakat dengan hartanya sendiri?

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma ; beliau menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berbentuk satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (Keharusan) ini berlaku untuk golongan muslimin, budak ataupun orang merdeka, lelaki ataupun wanita, anak kecil ataupun orang dewasa …. ” (Al-Bukhari serta Muslim)

Hadis ini tunjukkan kalau budak, anak, serta istri berkewajiban menunaikan zakatnya semasing. Tetapi, ada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ad-Daruqutni dari Ibnu Umar kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penunaian zakat fitri untuk anak kecil atau orang dewasa, budak atau merdeka, lelaki ataupun wanita, yakni diantara beberapa orang yang dijamin nafkahnya. Hadis itu tunjukkan kalau zakat fitri adalah tanggung jawab kepala rumah tangga. Allahu a’lam.

Walau demikian, terdapat banyak anggota keluarga yang zakat fitrinya tidak jadi tanggung jawab kepala keluarga. Diantara mereka yaitu :

Anak yang mempunyai harta. Zakat fitrinya diambilkan dari hartanya. Ini yaitu pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, serta Abu Tsaur.
Istri yang belum juga digauli, karna seseorang suami belum juga diharuskan berikan nafkah istri yang belum juga digauli.
Istri yang membangkang (nusyuz) pada suami.

Apakah anggota keluarga yang hilang harus dizakati?

Ada info dari Imam Ahmad rahimahullah kalau budak yang kabur lalu tidak terdengar sekali lagi kabarnya atau diragukan apakah masih tetap tidak mati tidak harus dizakati. Tetapi, bila di ketahui kalau dia masih tetap tidak mati atau dia kembali pulang jadi zakatnya harus dikerjakan. (Masail Imam Ahmad)

Siapakah yang memikul zakatnya anak yatim?

Muhammad bin Hasan (satu diantara murid senior Abu Hanifah) memiliki pendapat kalau anak yatim tidak harus menunaikan zakat. Mengenai sebagian besar ulama, salah satunya : Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Auza’i, serta Imam Syafi’i, memiliki pendapat kalau anak yatim yang mempunyai harta itu harus membayar zakat yang di ambil dari hartanya. Insya Allah, pendapat ini lebih pas karna keharusan zakat meliputi anak-anak serta orang dewasa. Oleh karenanya, sepanjang orang itu mempunyai bahan makanan sisa hingga hari raya besok paginya, dia harus menunaikan zakat.

Adakah zakat fitri juga berlaku untuk janin?

Dalam hal semacam ini ada tiga pendapat ulama.

Pertama, harus membayar zakat fitri untuk janin bila sudah terang keberadaannya.

Pendapat ini yang diambil oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Abdullah bin Ahmad menyampaikan kabar kalau bapaknya (Imam Ahmad bin Hanbal) menyebutkan, “Ditunaikan zakat fitri untuk janin yang masih tetap di kandungan, bila sudah terang status kehamilannya. ” (Masail Imam Ahmad)

Penulis kitab Ahkam Zakat Fitri menyebutkan, “Mungkin, sikap Imam Ahmad dalam problem ini (mewajibkan zakat fitri untuk janin) yaitu dalam rencana kehati-hatian, mengingat ada kisah dari Khalifah Ustman radhiallahu ‘anhu. ” (Ahkam Zakat Fitri, hlm. 6)

Ke-2, tidak harus dikerjakan zakatnya tetapi orang yang lain diijinkan membayarkan bahan makanan seukuran zakat fitri untuk janin itu, jadi sedekah umum. Pendapat ini yaitu pendapat yang diambil oleh Syekh Ibnu Al-Utsaimin (saksikan Majalis Syahri Ramadhan, majelis ke-28)

Dua pendapat diatas berdalil dengan atsar tersebut :

1. Ada kisah dari Al-Khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu sebenarnya beliau punya kebiasaan membayarkan zakat fitri untuk janin.

2. Abu Qilabah menyebutkan, “Mereka menunaikan zakat fitri, beberapa hingga mereka membayarkan untuk janin yang ada di kandungan. ” (Hr. Ibnu Abi Syaibah, no. 10738)

Ke-3, janin yang tetap dalam kandungan serta belum juga dilahirkan hingga hari raya berjalan, tidak harus serta tidak disyariatkan untuk dikerjakan zakatnya. Ini yaitu pendapat biasanya Hanabilah, Syafi’iyah, serta satu diantara pendapat Malikiyah.

Insya Allah, pendapat ke-3 berikut yang lebih kuat, dengan sebagian argumen :

Kisah yang menyebutkan kalau Khalifah Utsman membayarkan zakat fitri untuk janin yaitu kisah yang dhaif karna sanadnya munqathi’. Kisah ini dari jalur Humaid bin Bakr serta Qatadah dari Utsman bin Affan. Berlangsung keterputusan sanad pada Humaid serta Qatadah dengan Khalifah Utsman bin Affan. Sekian keterangan Syekh Al-Albani dalam Al-Irwa’, 3 : 331.

Zakat fitri hukumnya harus dikarenakan ada saat fitri, yakni terbenamnya matahari di hari paling akhir bln. Ramadan, sedang orang yang tetap dalam kandungan tidak tercakup dalam keharusan ini. Allahu a’lam.

Bolehkah seorang membayarkan zakat fitri untuk saudara atau orang tuanya?

Diijinkan untuk seorang untuk membayarkan zakat fitri orang yang lain, siapa juga dia, karna pembayaran zakat fitri tidak dipersyaratkan mesti dari harta pribadi, tidak seperti zakat harta atau emas. Tetapi, butuh diingat, orang yang akan membayarkan zakat untuk orang yang lain yang dapat membayar zakat sendiri mesti memberitahu terlebih dulu pada orang yang dia bayarkan zakatnya. Hal semacam ini mengingat dua hal :

Supaya tidak berlangsung pengulangan pembayaran zakat hingga zakat fitrinya dua kali
Semuanya amal hamba itu memerlukan kemauan. Termasuk juga dalam hal semacam ini yaitu zakat. Oleh karenanya, orang yang dizakati butuh di beri tahu hingga dia dapat punya niat saat dizakati.

Apakah pembantu harus dibayarkan zakatnya?

Bila nafkah pembantu itu dijamin oleh tuannya, umpamanya : pembantu rumah tangga, jadi tuan itu harus membayarkan zakat fitri untuk pembantunya. Bila nafkah pembantu tidak dijamin tuannya jadi tak ada keharusan untuk tuannya untuk menunaikan zakat fitri pembantunya.

Imam Malik menyebutkan, “Tidak ada keharusan untuk seorang untuk membayarkan zakat fitri untuk budak punya budaknya, pembantunya, serta budak istrinya, terkecuali orang yang menolong dianya serta mesti dia nafkahi jadi status zakatnya harus.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *