Hariyono Menikmati Jual Ikan Koi

Hariyono Menikmati Jual Ikan Koi

Hariyono Menikmati Jual Ikan Koi

Bahkan, para anggota tidak ada yang berani mencoba protes lantara kerap diancam akan dilaporkan ke Kasatpol PP, yang imbasnya dilarang berjualan di seputaran alun-alun. Informasinya, Suhariyono minta setoran Rp 900.000 tiap bulannya, tidak peduli kondisi jualan sepi atau ramai, jatah harus sudah disetor tiap awal bulan. “Yang nyetor koordinator langsung, anak buah tidak boleh ada yang tahu, entah benar disetorkan apa tidak ya gak tahu,” kata pedagang lainnya. Buntut adanya kegelisahan dan keresahan pedagang kaki lima (PK5) di seputaran alun-alun Nganjuk karena adanya setoran yang masuk ke kantong Kasatpol PP Kabupaten Nganjuk Suhariyono berakibat akan ditertibkannya para pedagang yang mengais rejeki di seputaran alun-alun Nganjuk. “Saya sudah menghadap pak Sekda Masduqi, beliau Jual Ikan Koi memerintahkan agar semua pedagang di alun-alun dipusatkan di trotoar Jl Pramuka, atau utara alun-alun, jiak maasih ada yang membandel akan kami garuk,” ujar Kasatpol PP Kabupaten Nganjuk.

Menurut Herek, sapaan akrab Suhariyono, himbauan itu berlaku mulai Sabtu (1/8) sampai seterusnya. Hal itu dikarenakan untuk menepis rumor yang beredar jika dirinya dituduh mematok harga untuk dapat setoran dari para PK5. Padahal, apa yang diisukan banyak orang itu hanya fitnah belaka. “Ini bukan sebuah kebijakan untuk menempatkan pedagang Jual Ikan Koi di trotoar jalan pramuka, tapi hanya sebuah toleransi agar mereka tetap bisa mengais rejeki,” tandasnya. Namun hingga saat ini, total pungutan yang diperoleh dari sekitar 150 pedagang dan dibawa koordinator PK5 tersebut, tidak pernah ada laporan ke anggota. Pernah beberapa kali ada anggota yang mencoba bertanya, jawabnya selalu uang sudah disetor ke Satpol PP dan sisanya untuk kebutuhan lain, seperti bayar listrik dan kebersihan.

Jika para PK5 tetap dibiarkan seperti dulu, kata Herek, maka tuduhan dan fitnah yang mengarah kepadanya akan semakin santer. Selain itu, para pengurus PK5 biar bisa instropeksi diri dan lebih trasnparan kepada Jual Ikan Koi para anggotanya. “Bila dibiarkan, nanti dikira saya benar-benar dapat setoran,” ungkapnya. “Praktik pungli sudah ini sudah berlangsung cukup lama, seingat saya sejak Kasat Pol PP dijabat oleh Suhariyono, katanya sisanya setoran itu untuk kas anggota,” ujar Min, salah seorang penjual rokok di alun-alun Nganjuk.

Diberitakan sebelumnya, beberapa pedagang kaki lima (PK5) yang biasa mangkal di seputaran alun-alun Nganjuk mengaku resah dan mengeluhkan adanya pungutan liar (pungli) terselubung. Mereka diharuskan setor bervariasi dari Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu perbulan. Modusnya, iuaran tersebut dikoordinir oleh salah satu pedagang yang didapuk Jual Ikan Koi menjadi ketua PK5 untuk yang sebagian disetor kepada Kasat Pol PP Kabupaten Nganjuk, Suhariyono. Kasatpol PP Kabupaten Nganjuk, Suhariyono saat dikonfirmasi Koran Memo terkait pungutan PK5 yang disetor ke dirinya, dengan tegas membantah jika dirinya minta jatah setoran setiap bulan. Dia menuding ada pihak-pihak tertentu yang sengaja melempar fitnah terhadap dirinya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *